magang 1 ,tema kultur sekolah,leni alya 11901220 ,pai 4 I
LAPORAN BACAAN KULTUR SEKOLAH
Nama saya Leni alya ,nim :11901220 ,dari jurusan pendidikan agama islam kelas pai 4 I
Assalamualaikum warohmatullahiwabarakatuh ,Puji syukur Kehadirat Allah Swt atas rahmat nya serta petunjuknya ,Sehingga saya dapat mengisi pada halaman blogger ini untuk dijadikan sarana ajang ide-ide kreatif ,ilmu pengetahuan ,dan lain sebagainya, yang terhormat kepada ibu farninda Aditya,Mpd. Selaku dosen pengampuh yang telah mendidik dan membimbing kami dan teman teman yang saya sayangi
Saya telah membaca tentang tema kultur sekolah dan berdasarkan hasil pemahaman saya serta laporan bacaan saya berdasarkan tema kultur sekolah adalah sebagai berikut
1. Pengertian Kultur Sekolah
(Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.
Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses ransmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21)
Dapat disimpulkan Berdasarkan pemahaman saya , kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah.
Kondisi ini adalah normal sebagaimana dijelaskan oleh Bare (Siti Irene Astuti D, 2009 : 119-120) yang menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari pendekatan antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah meliputi:“a unique mixing of ethnicity, values, experience, skills, and asporation: special rituals and ceremonies: unique history of achievement and tradition: unique socio-economic and geographic location”.
Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009: 74).Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi
dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial.Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.
Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Hal itu disebut kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani kepentingan transmisi nilai (Ariefa Efianingrum, 2007: 51).Pengertian kultur sekolah beraneka ragam. Deal dan Kennedy (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3) mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai disepakati secara luas di sekolah, sejumlah kelompok memiliki
kesepakatan terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilai-nilai. Keadaan ini tidak menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan dan nilai-nilai subordinasi itu tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan membangun suatu masyarakat sekolah pro belajar ataumembangun sekolah yang bermutu.
Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan bahwa kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.
Menurut Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik serta dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Menurut Zamroni (2005: 15), kultur atau budaya dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai tertentu yang dianut sekolah.
Misalnya, sekolah memiliki spirit dan nilai disiplin diri, tanggung jawab, kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, dan semangat hidup. Spirit dan nilai tersebut mewarnai pembuatan struktur organisasi sekolah, penyusunan deskripsi tugas, sistem dan prosedur kerja sekolah, dan tata tertib sekolah, hubungan vertikal dan horizontal antar warga sekolah, acara-acara ritual, seremonial sekolah, yang secara keseluruhan dan cepat atau lambat akan membentuk realitas kehidupan psikologis sekolah, yang selanjutnya akan membentuk perilaku perorangan maupun kelompok warga sekolah.kadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang terbentuk dari hasil mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan, norma-norma, dan hubungan antara individu sekolah (Aan Komariah, 2006 : 121).
Bagi sekolah dalam membangun disiplin di sekolah sampai saat ini masih menjadi problem utama. Kesulitan sekolah untuk membangun budaya disiplin menjadi program pokok yang terus menerus diupayakan oleh sekolah. Bagi sekolah, bahkan pekerjaan mendisiplinkan masih menjadi tugas keseharian yang harus dilakukan oleh pihak sekolah. Kesulitan menanamkan disiplin belajar, karena sekolah belum berhasil untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya belajar. Pihak sekolah masih terus belajar untuk menanamkan “senang belajar”, karena sampai saat ini masih banyak siswa yang tidak disiplin, terlambat datang ke sekolah, tidak tertib mengerjakan tugas, tidak belajar.
2. Karakteristik Kultur Sekolah
Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :
1. Kultur yang terkait prestasi/kualitas : (a) semangat membaca dan mencari referensi; (b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; (c) kecerdasan emosional siswa; (d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis; (e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.
2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :
(a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan;
(b) nilai-nilai keterbukaan;
(c) nilai-nilai kejujuran;
(d) nilai-nilai semangat hidup
; (e) nilai-nilai semangat belajar;
(f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain;
(g) nilai-nilai untuk menghargai orang
lain;
(h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan;
(i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif;
(j) nilai-nilai disiplin diri;
(k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai kebersamaan;
(m) nilai-nilai saling percaya; (n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).
.
Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7)
.Jadi dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya dalam kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapatmerubah pola perilaku. Dinamika kultur juga dapat menhadirkan konflik, namun dalam hal ini jika sekolah dapat menangani secara bijak konflik tersebut dapat menajadi perubahan yang positif.
3. Identifikasi Kultur Sekolah Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak teramati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera.
Lapisan pertama budaya berupa norma norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah dan biasa disebut artifak.Lapisan kedua berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Lapisan pertama yang berintikan norma-norma perilaku sukar diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah dan memerlukan waktu untuk mengubah.
pembangunan kultur sekolah yang positif dapat dicapai, peran kepala sekolah sebagai pemimpin harus di telaah.Menurut Senge (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 14), peran kepala sekolah yang berhasil mengelola sekolah adalah yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Mensosialisasikan visi dan misi sekolah dan rencana
mencapai visi,
2) Menjelaskan harapan sekolah terhadap guru dan
siswa,
3) Selalu tampak di sekolah,
4) Dipercaya oleh guru dan siswa,
5) Membantu pengembangan kemampuan guru,
6) Memberdayakan guru dan siswa,
7) Memberikan pujian dan peringatan terhadap warga
sekolah,
8) Memiliki rasa humor,
9) Sebagai model bagi guru dan siswa.
A:Jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas sekolah, ada tiga jenis kultur
sekolah.
1. Kultur yang positif, adalah
kegiatan- yang mendukung (pro) peningkatan kualitas pendidikan.
Misalnya kerjasama dalam mencapai penghargaan kepada yang berprestasi dan penghargaan kepada yang belajar
2. Kultur sekolah negatif,
adalah kegiatan-kegiatan yang kontra peningkatan kualitas pendiidkan contohnya siswa takut jika berbuat kesalahan ,takut untuk bertanya atau takut mengemukakan gagasan atau pendapatnya
IDENTIFIKASI KULTUR SEKOLAH
Beberapa hal yang dapat
diidentifikasikan sebagai kultur sekolah,
a. dapat diamati seperti: tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara- upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda- tanda, sopan santun, cara berpakaian.
b. tak dapat diamati: berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok.
2. Nilai-nilai dan keyakinan:
Nilai dan keyakinan yang ada di sekolah dan menjadi ciri utama sekolah,misalnya: ungkapan Rajin Pangkal Pandai; Air Beriak Tanda Tak Dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lain.alur pengembangan kultur.
Beberapa nilai yang direkomendasikan untuk dikembangkan di sekolah meliputi :
1. Nilai-nilai terkait prestasi/kualitas, misalnya:
Semangat membaca dan mencari referensi.Keterampilan siswa dalam mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup.
-Kecerdasan emosional siswa contohnya Keterampilan komunikasi siswa, baik secara lisan maupun tertulis.
2. Nilai-nilai terkait kehidupan sosial, seperti:
-Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan
-Nilai-nilai keterbukaan
-Nilai-nilai kejujuran
-Nilai-nilai semangat hidup
-Nilai-nilai semangat belajar
-Nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain
-Nilai-nilai untuk selalu menghargai orang lain
-Nilai-nilai persatuan dan kesatuan
-Nilai-nilai untuk selalu bersikap dan prasangka positif
-Nilai-nilai disiplin diri
-Nilai-nilai tanggung jawab
Nilai-nilai kebersamaan
TANDA-TANDA PERUBAHAN
Terkait Mutu
1. Kreativitas metode pembelajaran, untuk mengurangi kejenuhan dan menyesuaikan dengan konteks pembelajaran.
2. Iklim belajar yang menyenangkan, untuk menumbuhkan kegairahan, motivasi intrinsik/ekstrinsik.
3. Pekerjaan rumah dan tugas dikerjakan dengan kreatif dan produktif. Terkait Moral
a- Berkurangnya pelanggaran disiplin.
b- Berperilaku wajar, percaya diri, dan tidak sombong.
Tumbuhnya persaingan sehat
antara siswa, kelas, dan guru. Terkait Pendidikan Multikultural contohnya antara lain sebagai berikut :
1. Kebersamaan lintas kelompok etnik atau agama.
2. Menghormati perbedaan pandangan atau pendapat.
3. Menjunjung tinggi kepentingan yang lebih besar.
4. Menyelesaikan masalah dengan
musyawarah.(pedoman pengembangan kultur sekolah ,jakarta depidiknas )
CONTOH KULTUR SEKOLAH
1. Budaya suka membaca
2.Budaya bersih
4. Budaya disipilin dan efisien
5. Budaya kerjasama
6. Budaya saling percaya
7. Budaya saling memberi penghargaan dan teguran
8. Budaya berprestasi
DAFTAR PUSTAKA
Deal, T. E, dan Peterson, K.D. (1999). Shapping School Culture: The Heart of
Leadership. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.
Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas, (2003).
Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. Jakarta: Depdiknas.
Koentjaraningrat. (2003). Pengantar Antropologi 1. Jakarta: Rineka Cipta
Stolp, S. dan Smith, S. C. (1995).
Tranforming School Culture Stories, Symbols, Values and Leaders Role. Eugene, OR: ERIC, Clearinghouse on Educational Management University of Oregon.
Komentar
Posting Komentar