karakteristik peserta didik

ASSALAMUALAIKUM NAMA SAYA LENI ALYA DENGAN NIM SAYA 11901220,BAIKLAH DISINI SAYA AKAN KEMBALI MEMBAHASA TENTANG MENGENAL KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Mengenal Karakteristik Peserta Didik
` Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh para pendidik untuk menjadikan dirinya sebagai  pendidik yang profesional adalah selalu meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial. Di dalam kompetensi pedagogik, seorang pendidik wajib: 1) mengenali karakteristik dan potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan zengembangan kurikulum, 4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif, dan 5) menguasai sistem, mekanisme, dan prosedur penilaian. Di sini terlihat jelas bahwasanya mengenali karakteristik dan potensi  peserta didik merupakan komponen pertama dalam kompetensi pedagogik, tetapi seringkali terlupakan oleh seorang pendidik. Memang tidak mudah untuk mengenali karakter dan potensi pada setiap peserta didik, tapi hal ini sangatlah mungkin.

Karakteristik Peserta Didik
Istilah karakter membuat banyak orang menyamakannya dengan kata sifat, watak, akhlak, atau tabiat. Kenyataannya tak selalu bisa dimaknai seperti itu. Kita perlu mempelajari pengertian karakter menurut para ahli agar memahami perbedaannya. Menurut Doni Kusuma,  karakter adalah ciri, karakteristik, gaya, atau sifat diri dari seseorang yang bersumber dari bentukan yang diterima dari lingkungannya.  Berdasarkan pendapat tersebut karakter peserta didik turut dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.  Tadkiroatun Musfiroh (2008: 25),  mengatakan karakter  mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).   Dari pendapat para ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa karakter adalah ciri, sifat diri, akhlak atau budi pekerti, kepribadian dari seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik.

Sebagai seorang pendidik  tentunya tidak hanya bertugas mengajar di kelas saja, akan tetapi mendidik dan juga melatih. Hal ini sangatlah tepat apabila dikaitkan dengan pembentukan karakter yang baik bagi para peserta didik. Seperti apa seorang pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana melatih para peserta didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu sendiri, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,  misalnya dengan  memunculkan kesan pertama pendidik yang positif saat kegiatan belajar di kelas.  Pendidik sangat perlu memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta  didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosio-sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental  atau perkembangan kognitifnya. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di  atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang  akan dilaksanakan.

Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan. Seorang pendidik mempunyai peran multifungsi, sebagai konselor, dia mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti yang positif, serta memberikan solusi yang tepat dan tuntas  dalam menyelesaikan masalah peserta didik. Selain itu juga memperhatikan karakter dan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Pendidik  juga bisa berperan sebagai seorang dokter yang memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya.

Perannya  sebagai seorang ulama, pendidik membimbing dan menuntun batin atau kejiwaan peserta didik, memberikan pencerahan yang menyejukkan dan menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan agama yang hasilnya akan lebih baik. Mengenal dan memahami peserta didik dapat dilakukan dengan cara memperhatikan dan menganalisa tutur kata (cara bicara),  sikap dan perilaku atau perbuatan anak didk, karena dari tiga aspek diatas setiap peserta didik mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya. Untuk itu seorang pendidik harus secara seksama dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap aktivitas pendidikan.

Seifert dan Hoffnung (1994) berpendapat perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti : pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan, dan sebagainya).

Berdasarkan pendapat di  atas, jelaslah bahwa perkembangan fisik setiap peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti telah dijelaskan di atas. Oleh sebab itu  Anda  sebagai pendidik harus mengenali karakteristik perkembangan peserta didik dari segi fisik, agar Anda bisa lebih memahami situasi pembelajaran di dalam kelas dan apabila ada situasi yang tidak Anda harapkan suatu saat terjadi, maka Anda akan lebih memahami situasi tersebut. Kalau Anda bisa memahami kejadian tersebut, maka Anda pun diharapkan akan bisa mencari solusinya dan kalau situasi sudah dapat dikuasai maka proses pembelajaran diharapkan akan lebih lancar dan tujuan akan tercapai.

 

1.2  Perkembangan Kognitif Peserta didik

Proses pembelajaran setiap peserta didik berlangsung baik di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat diperlukan peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam erkembangan  peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan Pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita, 2009).

Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang cukup penting bagi guru maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada  anak merupakan kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang termasuk dalam   proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik juga harus dapat dipahami semua pihak. Dengan pemahaman pada karakteristik perkembangan peserta didik, guru dan orang tua dapat mengetahui sebatas apa perkembangan yang dimiliki anak didiknya sesuai dengan usia mereka masing-masing, sehingga guru dan orang tua dapat menerapkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing anak didik.

Tidak kalah penting, guru juga harus mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peserta didik. Yang sangat sentral dalam faktor-faktor yang mempengaruhi   perkembangan kognitif adalah gaya pengasuhan dan lingkungan. Biasanya gaya pengasuhan lebih diterapkan pada anak-anak. Pada pengasuhan ini merupakan cikal-bakal perkembangan kognitif tersebut, karena ketika anak diasuh secara  tidak sesuai dengan semestinya, ini akan berakibat pada perkembangan kognitif anak, bahkan pada perkembangan mental anak tersebut. Lingkungan pun sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, semakin buruk lingkungan maupun pergaulan seseorang maka kemungkinan pengaruh lingkungan pada perkembangan kognitif anak semakin besar.

Dari uraian di  atas jelaslah bahwa perkembangan kognitif peserta didik sangat  berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan hasil yang dicapai.

1.3  Perkembangan Sosial-emosional  Peserta didik

Selain perkembangan karakteristik fisik dan kognitif peserta didik, yang tidak kalah penting adalah perkembangan sosial-emosional peserta didik.  Sosio-emosional berasal dari kata sosial dan emosi. Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial.  Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral agama. Sedangkan emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi dibedakan menjadi dua, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar. Emosi negatif sperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Selain itu, dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin  ‘movere’ yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e-‘ untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.

Perkembangan sosio-emosional peserta didik termasuk suatu pembahasan yang sangat penting karena dengan mengetahui perkembangan sosio-emosional peserta didik, para pendidik dapat mengambil tindakan pada permasalahan peserta didik dengan berbagai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Sosio-emosional adalah perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Dalam pembahasan sosio-emosional ini lebih ditekankan dalam  sosio-emosional pada  remaja.  Pada masa remaja, tingkat karakteristik emosional akan menjadi drastis tingkat kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai  pendidik. kita harus mengetahui setiap aspek  yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga kita bisa melakukan komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan emosi remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses dalam mencapai kedewasaan. Meskipun sikap kanak-kanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja karena pengaruh didikan orang tua.

Faktor yang sangat memengaruhi perkembangan peserta didik pada usia remaja yaitu didikan orang tua, lingkungan sekitar tempat tinggal dan perlakuan guru di sekolah. Pengaruh sosio-emosional yang baik pada remaja terhadap diri sendiri yaitu untuk mengendalikan diri, memutuskan segala sesuatu dengan baik, serta bisa lebih matang merencanakan segala hal yang akan diputuskannya, sedangkan terhadap orang lain, yaitu mampu menjalin kerjasama yang baik, saling menghargai dan mampu memposisikan diri di lingkungan dengan baik.

Agar seorang peserta didik dapat memiliki kecerdasan emosi dengan baik haruslah dibentuk sejak usia dini, karena pada saat itu sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan manusia selanjutnya. Sebab pada usia ini dasar-dasar kepribadian anak telah terbentuk. Jelaslah sudah betapa pentingnya seorang pendidik memahami perkembangan sosio-emosional peserta didik, agar dalam proses pembelajaran perkembangan sosio-emosional peserta didik yang berbeda-beda dapat diatasi dengan baik.

1.4 Perkembangan Moral dan Spritual Peserta Didik
Perkembangan moral dan spiritual peserta didik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita semua. Demikian pula dalam proses pendidikan peserta didik baik itu di sekolah maupun di rumah. Teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap yaitu:  Penalaran prakovensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Tingkat Satu : Penalaran Prakonvesional

Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori  perkembangan  moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.

Tingkat Dua: Penalaran Konvensional

Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.

Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional

Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.  Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spiritual meliputi komunikasi dengan Tuhan (fox 1983), dan upaya seseorang untuk bersatu dengan Tuhan (Magill dan Mc Greal 1988), spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).

Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda  kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal,  timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:

 

1.5 Latar Belakang Sosial Budaya Peserta Didik

Sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan  masyarakat atau kemasyarakatan,  sementara budaya segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa, dan karsa. Jadi dapat disimpulkan dari segi istilah sosal budaya merupakan segala hal yang diciptakan oleh manusia dengan pikiran dan budinya dalam kehidupan bermasyarakat.  Unsur-unsur sosial budaya peserta didik  meliputi antara lain  bahasa, kesenian, sistem religi, sistem kemasyarakatan dan sistem ekonomi. Kehidupan dan nilai sosial budaya peserta didik dalam kehidupannya selalu mendapatkan dan dipengaruhi oleh nilai nilai sosio-budaya dari lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar.

Potensi Peserta Didik
potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan individu untuk lebih berkembang. Setiap individu  memiliki potensi yang berbeda satu sama lainnya. Potensi peserta didik yang dimaksud adalah kemampuan yang mungkin dikembangkan  atau  menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral, dan religius.

Potensi fisik merupakan kondisi kesehatan fisik dan berfungsinya anggota tubuh dengan baik yang diperoleh dari pemeriksaan  oleh  tenaga medis, observasi perilaku, wawancara,  dan pengisian angket  akan menunjang kelancaran peserta didik melakukan aktivitas belajar dan memaksimalkan keberhasilan peserta didik dalam belajar.  Organ tubuh akan berfungsi dengan baik dan maksimal apabila kondisi kesehatan peserta didik juga baik.

Herry Wibowo (2007:19)  menyatakan bahwa  potensi yang  terbesar manusia adalah otak. Otak adalah pengatur seluruh fungsi tubuh, dan juga sebagai pusat yang mengendalikan perilaku individu. Adapun potensi intelektul atau kekuatan otak individu berkaitan dengan daya nalar dan logika yang berupa kemampuan untuk mempelajari keterampilan, menganalisa, dan lain lain  Faktor-faktor yang memengaruhi potensi intelektual individu    adalah    faktor internal, misalnya motivasi, kemauan, kemampuan  dan faktor eksternal, misalnya  sarana dan daya dukung penunjang.  Kedua faktor  ini  sangat memberikan pengaruh pada pencapaian kemampuan intelektual yang maksimal dari peserta didik. Faktor internal peserta didik yang dominan memberikan kecenderungan  kekuatan daya juang yang besar saat menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Gordon Allport (2005:23) mendeskripsikan kepribadian sebagai  suatu organisasi dinamis dari sistem psiko-fisik dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan  dengan cara yang unik.  Aspek-aspek sikap kepribadian  diantaranya mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi, responsibilitas,  dan  sosiabilitas.  Berdasarkan pandangan psikologi, sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga menghasilkan motif. Jalaluddin (1996:187) menyatakan sikap  terbentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang dan bukan faktor bawaan.

Minat didefinisikan sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.  Minat peserta didik dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam menerima pembelajaran.  Bakat menurut Slavin didefinisikan sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang peserta didik untuk belajar. Oleh karena itu bakat mempengaruhi keberhasilan individu mencapai sesuatu.  Ahli psikologi lainnya mengatakan bakat adalah kemampuan dasar untuk melakukan suatu tugas tanpa upaya pendidikan atau pelatihan.

Moral  merupakan  ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Adapun keagamaan peserta didik berkaitan dengan konsep ketuhanan yang dianutnya.  Moral dan keagamaan individu memberikan pengaruh pada pembentukan nilai dan keyakinan yang dianutnya. Peserta didik yang memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran, kearifan, dan saling menghargai akan berdampak pada proses dan hasil pencapaian potensi peserta didik.

2.1. Faktor- faktor yang memengaruhi potensi peserta didik

 Faktor Fisik
  Faktor Psikologis
Faktor psikologis 
2.2. Faktor eksternal yang memengaruhi potensi peserta didik
 Lingkungan Sosial  Masyarakat
  Lingkungan Sosial keluarga
  Lingkungan sekolah
  Perbedaan ras, suku, budaya,

DAFTAR PUSTAKA
Aliran-aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia. Diunduh dari  http://www.peutuah.com/makalah-pendidikan/pada tanggal 1 Juni 2012
Djaarah, Syaiful Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta

Effendi, Mukhlison dan Siti Rodliyah. (2004).Ilmu Pendidikan.Ponorogo: PPS Press
Fauzi, Ahmad. (2011). Analisis Karakteristik Siswa.
http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2011/02/analisis-karakteristik-siswa.pdf  pada tanggal 28 Mei 2012
Hamalik, Oemar. (2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara.


Komentar